Kopi luwak sudah banyak ditemukan di pasaran Indonesia dan dunia. Namun menemukan kopi luwak yang berkualitas dan 100% organic serta tanpa campuran apapun masih jarang kita temui. Hal ini terjadi karena sebenarnya proses pembuatan kopi luwak tidak semudah seperti dibenak pikiran. Kopi luwak terkenal karena telah mengalami berbagai proses yang berbeda dengan kopi regular. Ada beberapa teknik untuk dapat memproduksi kopi luwak yang benar – benar berkualitas.

Kopi luwak diolah menggunakan teknik dasar pengolahan kering (Dry Process). Secara umum pengolahannya hampir sama dengan kopi regular lainnya namun ada beberapa perbedaan seperti bahan baku biji kopi yang memang sudah sangat berbeda. Selain itu perbedaan juga terletak pada saat proses pencucian biji kopi yang masih berkulit tanduk / perkpen kopi. Adapun beberapa tahapan proses pembuatan kopi luwak yang baik dan benar supaya dapat menghasilkan kopi luwak yang berkualitas tinggi.

Tahapan – Tahapan Pengolahan Kopi Luwak :

1. Pengumpulan Feses Luwak

Pengumpulan feses luwak ini merupakan awal dari semua proses pengolahan kopi luwak. Di dalam pengumpulan ini, ada dua teknik yang biasanya digunakan oleh produsen kopi luwak yaitu :
1. Pengumpulan feses luwak di perkebunan kopi (Luwak liar)
2. Pengumpulan feses luwak di penangkaran kopi luwak. (luwak tangkar)
Feses luwak yang masih berbentuk utuh seperti bongkahan sering disebut prongkolan luwak. Pengumpulan yang dilakukan di alam bebas / langsung di perkebunan kopi akan menghasilkan produk kopi luwak yang disebut kopi luwak liar. Artinya Dari prongkolan inilah yang nantinya akan diolah menjadi kopi terbaik di dunia. Kegiatan pengumpulan prongkolan luwak ini biasanya dilakukan setiap 2 – 3 hari namun disarankan untuk melakukan pengumpulan di pagi hari karena peluang mendapatkan feses luwak yang masih segar sangat besar.

2. Tempering / Pengeringan feses luwak

Pada umumnya feses luwak perlu dikeringkan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air yang berlebihan. Kadar air terbaik pada pengeringan tahap ini berada pada kisaran 13 – 16 %. Masa pengeringan ini dapat berlangsung selama 3 – 7 hari.

3. Pecucian Feses Luwak.

Pencucian ini sangat penting untuk dilakukan untuk memisahkan kotoran luwak yang masih menempel di biji kopi. Hal ini merupakan langkah awal untuk menghilangkan unsur najis di biji kopi luwak. Selain itu dengan pencucian tahap awal ini, diharapkan biji kopi luwak akan terhindar dari kemungkinan adanya pencemar – pencemar yang tidak dikehendaki seperti jamur – jamur liar atau bahkan bakteri – bakteri yang dapat merusak senyawa protein yang ada di biji kopi. Untuk Pencucian kopi luwak ini, sangat dianjurkan menggunakan selang air dan dicuci berulang – ulang minimal 7 kali pencucian dan cuci secara merata ke seluruh biji kopi. Pencucian harus dilakukan secara mendetail satu persatu untuk memastikan biji kopi telah benar – benar bersih dan yang lebih penting lagi biji kopi telah suci.

4. Tempering Fase II (Pengeringan biji Kopi Luwak Tahap II)

Setelah dilakukan pencucian, biji kopi selanjutnya dikeringkan kembali dengan tujuan untuk mengeringkan kadar air. Masa Pengeringan tahap kedua ini sama dengan masa pengeringan tahap I yaitu selama 3 – 7 hari. Disarankan dalam proses pengeringan menggunakan tempat yang bersih dan dapat membuat pengeringan terjadi merata ke seluruh biji kopi. Proses membolakbalikan biji kopi yang sedang dikeringkan juga penting untuk dilakukan supaya terjadi pengeringan yang merata ke seluruh biji kopi luwak.

5. Pengupasan kulit tanduk biji kopi luwak

Pengupasan biji kopi luwak ini harus dilakukan karena selain untuk dapat diolah lebih lanjut, pengupasan kulit tanduk pada biji kopi luwak juga bertujuan untuk memastikan tidak ada unsur – unsur najis lagi pada biji kopi luwak. Karena proses inilah, Majelis Ulama Indonesia memastikan bahwa kopi luwak halal untuk dikonsumsi karena telah sangat yakin bahwa biji kopi luwak benar – benar suci. Pengupasan kulit tanduk dapat dilakukan hanya dengan tangan hampa tanpa menggunakan bantuan alat apapun. Namun kalau dilakukan dengan kapasitas biji kopi yang banyak petani kopi luwak biasanya menggunakan alat sederhana yang disebut dengan roskam, sebuah alat yang biasanya digunakan oleh kuli bangunan untuk menyaring pasir situ bangunan. Dengan menggosok secara perlahan dan menggerakkan alat tersebut sehingga kulit tanduk akan benar – benar terkelupas. Setelah itu, biji kopi harus dikeringkan kembali.

6. Pengeringan Biji Kopi Tahap kedua

Proses pengeringan biji kopi pada tahap ini bertujuan untuk mengurangi kadar air hingga 13%. Pada pengeringan tahap kedua ini, Pengeringan harus dilakukan secara hati – hati dan tidak boleh berlebihan karena dapat menjadikan biji kopi jenis arabika pecah namun untuk jenis kopi robusta relatif aman dari masalah tersebut. Tempering ini harus dilakukan sampai kadar air pada biji kopi telah mencapai 12 – 13 %. Untuk lebih akurat, pengukuran kadar air ini harus dilakukan menggunakan alat pengukur kelembaban atau Cera Meter.

7. Sorting

Setelah kadar air biji kopi telah mencapai 12 – 13 %, biji kopi kemudian di-sortir untuk memisahkan kopi luwak dari bahan – bahan pencemar lain seperti tanah, pasir maupun debu. Kopi luwak yang telah di-sortir ini termasuk dalam kopi grade 1. Untuk kopi jenis arabika biasanya akan dilakukan pengelupasan kulit ari namun disarankan untuk tidak mengelupas kulit ari karena kulit ari ini berfungsi untuk mempertahankan mutu cita rasa khas kopi termasuk mencegah terjadinya perubahan warna biji kopi lebih tahan lama dibandingkan dengan biji kopi yang sudah terkelupas kulit arinya.

8. Packaging Kopi Luwak.

Setelah semua proses di atas dilakukan dengan hati – hati, selanjutnya dilakukan proses pengemasan biji kopi. Proses pengemasan ini harus dilakukan dengan baik, tepat dan harus benar. Hal ini karena proses pengemasan ini sangat mempengaruhi kualitas kopi luwak yang unik ini. Selain itu, proses packaging yang baik akan memperlama daya tahan simpan kopi. Untuk kopi biasa, biasanya akan dikemas ke dalam karung goni berkapasitas 60 Kg untuk disimpan dalam tempat penyimpanan sementara sebelum dijual. Namun perkecualian kopi luwak ini, pengemasan yang baik harus disimpan menggunakan kemasan dengan volume 5 Kg saja. Dengan pengemasan ini, Kopi luwak akan terpelihara dengan baik dan sangat tepat untuk kebutuhan ekspor demi menghindari pajak ekspor.

9. Penyimpanan Kopi Luwak.

Proses terakhir ini juga tidak kalah penting dengan proses – proses lain di atas karena penyimpanan yang baik akan menghindarkan biji kopi luwak dari pertumbuhan jamur di biji kopi. Selain itu dengan penyimpanan kopi luwak yang baik akan juga menghindari terjadinya perubahan warna, hilangnya aroma, dan adanya hama kutu. Adapun hal – hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan kopi luwak diantaranya :

a. Umur penyimpanan kopi luwak di dalam gudang penyimpanan maksimum 6 bulan.
b. Penyimpanan dilakukan di Silo (berbentuk kerucut) atau karung goni yang baik.
c. Ventilasi tempat penyimpanan harus memadai dan mendapat sinar matahari yang tertutup. Memiliki sirkulasi udara yang baik.
d. Tidak boleh ada genangan air di dalam tempat penyimpanan dan terhindar dari tampias air hujan.
e. Suhu ideal 10 – 28 derajat celcius.
f. Terhindar dari hewan – hewan pengerat seperti tikus dsb.
g. Kelembaban ideal 52 – 75 %.
h. Kadar air antara 12 – 13 %.
i. Memiliki penerangan yang cukup.

Kopi Luwak Kayu Mas

Kami menjual kopi luwak berkualitas dan organic, silahkan click Jual Kopi Luwak untuk mendapatkan informasi lebih jauh tentang kopi luwak organic Kayu Mas. Kopi luwak berkualitas yang diolah secara hati – hati menggunakan metode dan SOP yang ketat. Keseluruhan proses di atas kami terapkan dengan sangat hati – hati dan ketat sehingga menjamin kopi luwak yang berkualitas tinggi. Kami juga menyediakan kopi luwak dalam bentuk roasted coffee beans bagi anda yang ingin menyajikan kopi luwak siap seduh sesuai selera anda masing – masing.

Ditulis oleh :

VN:F [1.9.21_1169]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.9.21_1169]
Rating: +1 (from 1 vote)